Candu candi

Hasrat itu tiba-tiba muncul lagi.  Entah sebagai wujud kerinduan, atau pengejawantahan dari pencarian penawar rasa letih yang sudah meradang dalam jiwa. Sore itu, dengan sedikit paksaan dari keponakan yang jauh-jauh datang dari Jakarta, ingin sekali jalan-jalan sore ke Candi Prambanan.   Namun karena hari sudah sore, kupilih candi yang tidak memungut retribusi (paling tidak untuk warga setempat seperti saya) dan memang karena pintu masuk tidak dikunci. 

Melihat Candi yang berdiri kokoh di hadapan saya, saya merasa ada yang beda dalam jalan-jalan kali ini.  Tiba-tiba saya teringat akhir tahun yang lalu, dimana saya masih bisa bersama seseorang yang (paling tidak) lebih paham tentang percandian.  Ialah Candi Ijo, candi terakhir yang terkunjungi bersama Zam . 

Ndoyok, begitu bloger Jogja mengatakan, yang dulu pernah saya ikuti bersama Zam, Didit dan Cya tidak dapat dilupakan begitu saja.  Seperti candu yang sudah merasuk dalam jiwa, aktifitas itu tak ubahnya menjadi kegiatan yang bukan biasa saja. Sepeninggal mereka ke ibu kota, aktifitas ndoyok pun hampir tak pernah saya lakukan. 

Berkeliling di area candi yang masih dalam kondisi rehabilitasi pasca gempa, saya hanya clingak clinguk bak anak ayam kehilangan induknya.  Dulu ketika masih ada Zam, setiap detil relief yang ada di dinding candi dia jelaskan sekenanya, meskipun tidak semua terekam dengan baik dalam isi kepala saya. 

Senja menggantung di atas Candi Sewu

Dan saya pun terpaksa harus mengakhiri perjalanan saya sore itu, dengan bergumam “Kota Bogor Jakarta ternyata lebih indah dari pada candi-candi ini”.

Sesekali saya pun membidik senja yang menggantung di Candi Sewu sore itu, sebagai penawarnya. 

Menulis yang berbau candi, bukan bermaksud untuk meladang di lahan orang (baca: blog Zam), namun hanya sedikit mencoba membangkitkan review candi yang kini tidak pernah ada yang menuliskannya. 

Kebangkitan Rasional

100 tahun kebangkitan nasional sama dengan 100 kali bangsa ini mencoba bangkit dari segala masalah yang dihadapinya. Dan selama itu pula kebijakan persoalan negara (baca: pemerintah) yang tak selalu sepaham dengan arus bawah, atau lebih tepatnya hanya sepaham dengan beberapa gelintir orang yang berkepentingan saja.

Mengungkit kebijakan pemerintah selama ini, sama dengan membuka luka lama rakyat yang merindukan hidup sejahtera.

Memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan diiringi “nyanyian” rencana kenaikan harga BBM akan menyimpulkan bahwa 100 tahun kebangkitan nasional ditindaklanjuti pula dengan kebangkitan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT), solusi dari pemerintah cukup membantu, namun apakah ini akan berjalan untuk selamanya? Atau sebagai pemanis di awal kenaikan saja?

Tidak kah kita mengingat, menjadi orang miskin sangat mudah di negari ini sehingga hanya bermodal laporan “Dia itu miskin” dari pemerintah desa yang notabene adalah orang dekat pun lantas bisa mendapatkan kupon untuk mengambil “jatah” yang sepantasnya diterimakan meraka yang “benar-benar” membutuhkannya.

Pemerintah, semestinya memberikan sebuah solusi secara continue, bukan sesaat seperti BLT. Seperti kalimat bijak “Memberikan kail akan lebih baik daripada memberikan ikan” mungkin musti diterapkan pemerintah.

Pemerintah masih saja mengikuti nasihat para mentor pengembangan diri “Bangkitlah satu kali lebih banyak dari pada kegagalan Anda, niscaya akan sampailah kita pada masa kejayaan”. Kebangkitan sejati yang di butuhkan rakyat yang lebih tepat mungkin adalah Kebangkitan (yang) Rasional yang dimotori Pemerintah bukan Kebangkitan Kolonial.

Akhirnya, selamat memperingati menindaklanjuti Hari Kebangkitan Nasional, jayalah negeriku.

Sejenak diam

Kepada yang mulia abdi negara dan atau petinggi perusahaan, satu hal yang menjadi pertanyaan kami untuk dipikirkan sebelum tidur.  Mengapa ketika melihat film Ayat-ayat cinta sampai meneteskan air mata sedangkan tidak ketika melihat rakyat dan atau bawahan menderita?

Diam lebih baik dari pada tak bicara

Ketika kata tak lagi bermakna, mengapa tidak mencoba diam saja. Paling tidak untuk sejenak menahan untaian janji palsu (menjelang pemilu).

PS: Terkhusus untuk Jawa Tengah, Indonesia dan saya sendiri

DICARI! Penghuni JOGJA Terbaik!

Banyak orang luar melirik kota Jogja sebagai kota persinggahan di akhir pekan atau hari libur lainnya.  Entah apa alasan pastinya, tetapi banyak orang bilang suasana jogja lah yang membuat mereka kesengsem, jatuh cinta, kasmaran dengan kota itu.

Sudut-sudut kota jogja memang memiliki ciri khas tersendiri.  Namanya saja khas, jelas tidak akan ditemukan di kota lain tentunya.

Bagaimana dengan orang (asli) jogja sendiri?  Setahu saya mereka justru melirik kota besar lainnya untuk sekedar mencari rupiah yang lebih besar.   Mungkin oleh sebab itulah, sulit mencari penghuni jogja yang benar-benar mengenal kota jogja, kemudian memberitakan kepada lainnya, “Ini lho Jogja, punya malioboro, punya candi ijo, punya ini dan itu.”.

Dan disuatu waktu terpilihlah seseorang itu untuk dinobatkan sebagai Penghuni Jogja Terbaik.  Dialah Zam, yang pada akhirnya di daulat untuk menjadi Warga Nomor WAHID di kota tersebut.  Saya beranggapan ada hubungan yang melekat antara Zam dengan Jogja, bahkan melibihi hubungan antara anak dan orang tuanya.   Mungkin Zam sendiri beranggapan candi dan museum adalah tempat bermain dengan anak-anak lainnya.  Ya, bermain apa saja bakiak, congklak, sudamanda, petak umpet seperti lumrahnya anak-anak lainnya.

Banner official Zam

Kemahiran beliau dalam menguasai pemetaan tempat eksotik di Yogyakarta dan sekitarnya, membuat rakyat jelata menginginkan beliau menjadi Sultan ndoyokarta hadiningrat seumur hidup.  Aura yang terpancar dari tubuhnya mencerminkan dialah yang menerima wahyu keprabon di kasultanan “ndoyokarto hadiningrat”.  Dari auranya, Siapa saja pasti mengenal dari gaya fotonya. Bahkan di sebuah foto siluet sekalipun orang pasti mengenal “Itu pasti Zam”.  

Hari ini, terhembus kabar kabur, orang nomor satu di CahAndong itu berangkat ke Jakarta.  Kali ini dia tidak sedang berperan sebagai Tong Zam Chong yang berangkat ke barat untuk mengambil kitab suci, melainkan untuk mencoba babad alas di kota yang dipenuhi elit politik itu.  Berebut rupiah dengan elit politik.  Mengapa saya setarakan level Zam dengan Elit Politik?  Dari intertainment CahGosip, gajinya di Jakarta tak jauh beda dengan uang sidang yang diterimakan anggota DPR.

Kezamnya Jakarta

Terlalu banyak kenangan bersama Zam, sampai saya lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan disini.  Saya belajar banyak dari Zam.  Banyak hal yang belum kita lakukan untuk kota ini, semangat guyonmu akan terus dan tetap mengalir dalam jiwa para jelata.  Kami merindukanmu.   Jogja pasti bangga, mempunyai penghuni sepertimu.

DICARI! Penghuni CahAndong terbaik! *semua telunjuk menunjuk Zam*

Persepsi anak pak tani

Gonjang-ganjing perguruan tinggi yang membuka jurusan Pertanian sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir. Apa pasal? Animo pedaftar untuk menjadi mahasiswa pertanian menurun drastis. Bahkan ada beberapa perguruan tinggi yang nyaris gulung tikar karena dalam satu tahun hanya ada 5 orang mahasiswa baru.

Menurut pengakuan dari beberapa anak muda yang masih mencari bangku kuliah, mereka enggan memilih jurusan Pertanian karena (sepertinya) identik dengan urusan lumpur sawah, cangkul dan bajak-membajak. Kotor, kumuh dan bisa jadi gatelen (gatal-gartal) akibat terlalu sering ke sawah dan parahnya bayang-bayang gagal panen selalu membayangi karena tidak menentunya musim di bumi dalam dekade ini.

Kenapa tidak terpikirkan, semakin habisnya tenaga ahli dibidang pertanian di Indonesia yang sudah semakin udzur dan memungkinkan untuk segera ada penggantian? Setahu saya yang awam pertanian, pertanian di perguruan tinggi tidak mengajarkan bagaimana cara mencangkul, tetapi bagaimana cara memproduksi cangkul mengolah tanah yang baik.

Lima tahun ke depan, bisa saja tenaga ahli di departemen pertanian Indonesia banyak yang masuk usia pensiun, kesempatan bagi mahasiswa pertanian untuk mengambil alih posisi. Masih minat bergabung dengan anggota PNS kan?

Artinya peminat bidang pertanian yang sedikit akan menciptakan persaingan seminimal mungkin untuk memperoleh pekerjaan. Andai saja saya memiliki waktu 48 jam per hari, saya mungkin sudah terdaftar sebagai mahasiswa pertanian.

Namun, di lain sisi di tengah kerinduan masyarakat tentang swasembada pangan, lahan pertanian semakin ciut dengan didirakannya proyek pembangunan industri. Ini yang yang sungguh sangat disayangkan. Kebijakan pemerintah tentang pengembangan lahan industri sangat memprihatinkan.

Declaimer: Tulisan ini tidak bermaksud untuk promosi atau bahkan sampai menyinggung oknum tertentu.

Venus

Ngeblog hanya sekedar untuk keseimbangan katanya. Sekarang saya tau maksud dari kalimat simbok yang itu.

Mau tau alasannya ?

Jelas, kegiatan ngeblog mungkin adalah sekedar iseng-iseng berhadiah. Berhadiah teman, berhadiah wawasan bahkan berhadiah tudingan suara sumbang. Sudah dapat hadiah, uang masih saja mengalir ke brankas, kemudian dipindah ke safety box dan kegiatan ngeblog tetap berjalan. Sungguh menyenangkan.

Dibaliho cukup besar ini tertulis Selain usaha spa, adalah sebuah gerai busana muslim di bilangan Gedongkuning, Yogyakarta. Bloger wanita dibalik balutan busana muslim itu adalah pemiliknya.

Saya pribadi kurang tau alasan mengapa simbok memilih Yogyakarta, mungkin jika kelak Pesta Bloger jadi diadakan di Yogyakarta bisa dijadikan markas bloger luar kota sekalian promosi busana koleksinya. Padahal bisa saja keputasannya itu akan menjadi bumerang. Bagaimana tidak? Zam, Antobilang atau bloger yang lainnya bisa saja berbalik meminta diskon ketika belanja disana dengan alasan sering berkunjung ke blog pemiliknya?

Monetizing blog mungkin kurang menguntungkan bagi mereka yang sudah memiliki sumber “penopang” brankas. Usaha berkelas seperti ini bisa saja menghasilkan duit yang tidak hanya meteran, tetapi bahkan seperti keran yang bisa mengalirkan rupiah.

Seorang bloger bisa saja menyembunyikan brand usaha mereka ketika nulis di blog, tetapi tak jarang usaha seperti itupun kandas dengan suksesnya ditangan bloger yang lain.

Statement “bloger itu penipu pembohong” ternyata bukan saja populer akhir-akhir ini, dan parahnya justru seorang pakar blog sendiri yang mengatakannya ketika membahas ladang rupiah milik beberapa bloger. Dan kalau sekarang muncul lagi, sepertinya kok sudah basi, ya to?

Gerai venus di jalan Gedong kuning, Yogyakarta

Mbok, baju yang simbok pake waktu kopdar ada yang dipajang dan dilelang disitu ndak?

Bloger itu ngapain aja

Bloger itu sebenernya apa to mas? Suara kang kenthus tiba-tiba mengagetkan saya yang sedang asyik dengan mainan baru.

Kok sepertinya sering disebut-sebut sama tetangga saya. Lanjutnya.

Sebenernya saya sendiri belum tau apa dan siapa Bloger itu kang. Tapi kalau saya ikuti di media memang sepertinya bloger itu adalah sosok yang sangat mengerikan, bagi beberapa orang bloger juga dibilang sebagai ancaman, hambatan bahkan gangguan. Istilah jawanya “nggriseni. Jawab saya sekenanya.

Emmm, lha emang kerjaan bloger itu ngapain aja to Mas?, tanya kang kenthus polos. Memang background kang kenthus yang hanya berijazah SMP baru mengenal internet sejak ada ribut-ribut UU ITE kemarin.

Wah kalau kerjaannya ya macem-macem mas, ada yang jadi wartawan media, mahasiswa, programmer, menteri, artis, sutradara, peneliti burung atau bahkan seorang buruh seperti saya ini. Saya mengira pertanyaannya adalah latar belakang dari orang yang disebut bloger itu.

Bukan Mas, bukan itu. Maksud saya, apa yang dilakukan bloger kok sampai ada yang menganggap bloger sebagai ancaman, hambatan atau gangguan tadi. Kang Kenthus mencoba menperjelas pertanyaannya.

Oh kalau itu, sepaham saya bloger itu ya cuma nulis-nulis yang kadang ndak penting tapi bisa booming atau bahkan memang membesarkan kabar-kabar yang sudah besar. Selebihnya, mereka itu cuma ubyang-ubyung kesana kemari menikmati jaringan sosial yang sudah terbentuk yang dinamakan kopdar. Saya mencoba menjawab seperti apa yang saya tahu.

Lha kalau begitu, bukankah hampir sama antara bloger dan wartawan mas? Sanggahnya.

Emmm, bisa dibilang begitu Kang. Saut saya.

Begini mas, dulu sebelum saya kerja disini, saya pernah ikut kursus tulis menulis dari Dinas Tenaga Kerja. Disana saya dapat teori, tapi apa daya lha wong saya ini LEMAH OTAK banget kok. Kang kenthus mencoba menjelaskan kelemahan yang ada pada dirinya.

Oh ya? Bagaimana itu critanya Kang? Ada teori yang masih terngiang ndak?. Mak jegagik saya pun jadi penasaran.

Emmm, tunggu sebentar mas. Kang kenthus meninggalkan saya dan tak lama diapun kembali dengan kertas lusuh ditangan kanannya.

Begini mas, sebelum kita melangkah, kita harus punya pegangan. Aturan main dan harus tau siapa serta dimana kita. Di kertas ini tertulis beberapa diantaranya tentang apa itu jurnalistik:

  1. Kewajiban seorang jurnalis adalah tentang kebenaran.
  2. Loyalitas pertama jurnalis kepada warga.
  3. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan.
  4. Jurnalisme menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga.
  5. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan.
  6. Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional.
  7. Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti hati nurani mereka.

Begitu mas isinya. Diapun mengakhiri pembicaraannya.

Saya yang sedari awal dlongab-dlongob, karena memperhatikan apa yang dibacakannya cuma bisa menganggukan kepala.

Wah kang, kalau itu diterapkan juga dalam ranah blog sepertinya kok masih relevan ya. Kalimat ini muncul begitu saja dari mulut saya. Pastinya blog tidak akan diartikan sebagai rival atau oposisi tetapi justru sebagai media kontrol yang sifatnya netral.

Lihat saja, jika jurnalisme termasuk juga di dalamnya blog, dan praktisinya disubsitusikan dengan bloger, bukankah ini akan sangat menarik sekali.

Wah ya ndak tau mas, tapi yang saya dengar dari infotainment minggu kemarin, ada yang bilang kalau bloger itu penipu mas.

Sudahlah kang, ndak usah bahas itu lagi, statement yang itu sudah dilupakan kok.

Ya tapi apakah dilupakan berarti juga dimaafkan mas? Celetuknya.

Ah ternyata kang kenthus ngintip saya waktu saya baca blog ini.

Menanti kembalinya sang pendekar

Pendekar, ya pendekar, bukan pendek kekar. Melihat kondisi Indonesia
saat ini, seperti kembali pada jaman ketika kita dijajah oleh Kolonial Belanda. Rakyat ditindas, diperas dengan pajak yang tinggi, kelaparan juga terjadi dimana-mana. Mau tidak mau, suka tidak suka itulah yang terjadi saat itu.

Si Pitung Beruntunglah dulu ada orang-orang yang mau peduli terhadap kondisi wong cilik disekitarnya. Taruhlah sebagai contoh Si Pitung. Sepak terjang mereka kadang dinilai merugikan orang lain.

Si Pitung selain jago silat dia juga rajin belajar ngaji. Namun dia juga pernah berkali-kali merampok rumah Tauke dan ruman Tuan Tanah Kaya dibantu dua sahabatnya si Rais dan Jii. Dosa? Entahlah, tapi hasil rampokannya dia bagikan pada rakyat miskin. Tak jarang di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras hasil rampokannya.

Lain Si Pitung lain pula Raden Said. Raden Said yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah sosok Si Pitung yang lain. Raden Said yang merupakan putra Tumenggung Wilatikta Adipati Tuban, merasa miris ketika melihat rakyat ditindas. Membayar upeti, padahal untuk makan saja tak ada.

Raden Said merupakan anak muda yang taat beragama dan berbakti kepada orang tua namun karena melihat banyak ketimpangan disekelilingnya musim kemarau panjang dan kelaparan membuat rakyat tersiksa, hatinya berontak, pada malam hari sering dia mengambil hasil bumi di gudang kadipaten untuk dibagikan kepada rakyat yang memang lebih membutuhkan. Dan sampai akhirnya diusir dari kadipaten oleh ibunya karena ketahuan sedang mencuri di gudang kemudian bertemu dengan gurunya Sunan Bonang.

Meski di cap sebagai perampok atau pencuri, bagi rakyat kecil si Pitung maupun Raden Said adalah sosok pembela rakyat kecil. Seperti kita (bloger) yang konon dicap sebagai penipu, ya tidak apa-apa. Paling tidak mari kita membantu mensukseskan rencana mulia dari sahabat kita.

Bukannya mau menyebut bloger sebagai pendekar, namun paling tidak bloger harusnya memiliki semangat juang dari Si Pitung dan Raden Said. Tidak harus dengan merampok, tidak harus dengan mencuri, apalagi harus menjadi seorang penipu. Bagaimana caranya? Saya kutip saja dari blog pemrakarsa:

Bagi yang ingin menyumbang, dan mohon maaf karena belum ada rekening khusus maka akan mengunakan nomor rekening pribadiku. Setiap penyumbang diwajib menelepon atau sms ke: 08128043766, dengan memberitahukan nama dan berapa dana yang ingin disumbangkan. Agar dana yang masuk bisa dicek dan dipublish sebagai pertanggungjawaban.

Batas waktu seminggu terhitung dari sekarang. Terima kasih sebelumnya. Sekali lagi, Maaf, ini bukanlah keharusan. Tapi sukarela. Sekecil apapun yang diberi akan sangat besar artinya untuk saudara-saudara kita yang sedang menunggu di sana.

no rekening:
118-00-0577625-6
Tjhia Fui Ha
Bank Mandiri
KPC. Puri Indah

Hidup Blogger!!!

STOP Kelaparan IndonesiaRoda selalu berputar, jangan sampai kejadian seperti Bencana Kelaparan terulang di negeri kita. Bagaikan ayam mati di lumbung padi, mungkin itu yang lebih pantas jika kelak masih ada kejadian serupa.

Kali ini saya (bloger) sedang tidak menipu, tapi memang demikianlah fakta kondisi di Indonesia menghadapi Visit Indonesia Year 2008. Apa demikian caranya Pemerintah mencoba menarik simpati turis mancanegara untuk datang ke Indonesia? Lihat saja lebih menarik mengurusi BLBI dan Gubernur Bank Indonesia dari pada mengurusi kelaparan di negeri ini. Ah picik sekali pemikiran saya, maafkan.

***

Gambar dari jagoan.or.id dan tikabanget.com

Per detik, per hisap sampai puasss

Memang sudah saatnya konsumen dimanjakan dengan berbagai pilihan produk.  Tersedia satu pilihan, bisa bisa disebut monopoli.   Terlepas dari kualitas dan pelayanan servisnya, akhir-akhir para produsen beradu domba memikat pilihan konsumen. Tidak hanya penyedia jasa telekomunikasi yang perang tarif, yang dihisap-hisap pun tak mau kehilangan momentum.   Kok bisa?  Entahlah, saya cuma berhasil mengabadikan gambarnya saja tanpa wawancara kepada simbah yang punya toko, terlebih lagi untuk mencoba menghisapnya.

Murah saja, cukup 25 rupiah per hisap, semakin sedikit hisapan untuk menghabiskan batang rokok yang disulut, semakin murah harganya.  Tinggal dikalikan saja.  Kalau harga rokok sudah ada yang per detik hisap apa saya akan merokok? Tidak, biarlah saya dibilang sebagai manusia yang ikut merugikan petani tembakau, karena saya tidak ikut membakar tembakau mereka.

Murah, Per hisap 25 rupiah

Lantas bagaimana dengan tarif barang yang dihisap-hisap lainnya? Saya kurang tahu. Yang saya tahu gaji PNS akan naik ditahun ini.  Tentu saja sudah lumrahnya, kenaikan gaji ini akan diikuti merangkaknya harga kebutuhan yang lain.

“Sudah saatnya kita mengencangkan ikat pinggang Kang”, kata saya kepada kang kenthus .

“Mengencangkan boleh, asal jangan terlalu kencang.  Bisa-bisa malah putus pinggangnya.”, jawabnya sambil menyulut sebatang rokok ditangannya.

***

Gambar diambil diwarung samping apartemen merah gejayan. 

Matematis otak

Sampean pernah pake seragam sekolah? Kalau pernah, kesimpulan mudahnya berarti sampean pernah duduk di bangku sekolah. Dari sekian banyak mata pelajaran adakah pelajaran yang sampean benci? Bisa karena ndak bisa enjoy dengan gurunya atau memang sudah sejak masih orok menolak bertemu mata pelajaran tersebut.

Dari sekian banyak pelajaran yang diberikan, survey yang telah saya lakukan pada kalangan terbatas dan dalam waktu yang sangat terbatas membuktiken bahwa dua pelajaran yang menjadi momok pelajar di Indonesia adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Entah mengapa dua pelajaran tersebut bisa mengalahkan rating pilihan pemirsa peserta yang lain seperti kimia, fisika dan sejarah. Meskipun toh pada akhirnya saat ini Zamroni menyesal karena dulu pernah membenci pelajaran Sejarah hanya untuk mengetahui kapan Candi Prambanan didirikan dan terkesan membosankan.

English vs Matematika

Lain Zamroni lain pula dengan tembok gedung lembaga belajar bahasa asing dibilangan Seturan, justru mengadu keduanya. Dengan memberi kesan kepada orang bahwa salah satu diantaranya masih ada yang lebih mudah.

Kalau Pelajaran Bahasa Inggris sudah pake rumus, apa ndak sama saja dengan belajar Matematika dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris? Harus berpikir dua kali untuk hanya mengetahui rumus keliling lingkaran Kolam di depan Hotel Indonesia. Kalau begitu bisa jadi tambah keduanya dibenci tujuh turunan kalau sampai terjadi. Semoga saja tidak.

English (begitu guru saya melafalkan Bahasa Inggris) dan matematika bisa saja dibenci karena memang dirasakan sulit untuk menghafalkannya, karena memang ini tugas dari fungsi otak kiri. Lantas bagaimana dengan pelajaran yang menyangkut otak kanan seperti menggambar, musik dan pelajaran yang menuntut kreatifitas seseorang?

Jujur, saya termasuk orang yang prihatin ketika mengetahui bahwa selama ini saya hanya diajarkan untuk menggunakan kemampuan otak kiri saja. Yang mana, untuk menyelesaikan tugas menggambar saja saya selesaikan dengan hafalan. Silahkan cek ke sodara, kerabat, putra-putri atau sampean sendiri. Ajaklah mereka untuk menggambar pemandangan. Bolehkah saya tahu apa yang mereka gambar? Tidak kah rata-rata gambar (kasarnya) seperti gambar di bawah ini?

Mengapa demikian? Apa yang salah dengan gambar tersebut? Tidak ada yang salah, hanya saja rata-rata dari manusia di Indonesia (termasuk saya) belum bisa menggunakan orak kanan untuk menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya. Akibatnya seseorang menggambarkan bahwa pemandangan itu ya dua gunung dengan jalan ditengahnya dan (kadang-kadang) menyembul mentari disela-selanya. Serba matematis.

Sampean pasti juga pernah mendengar sebuah anekdot tentang pelelangan otak manusia. Dimana otak manusia Indonesia dibayar lebih mahal daripada otak Einstein karena kondisinya yang masih orisinil.

Kalau ngeblog baiknya pake otak yang mana?